07 Nopember 2008
---------------------
Lisbon – Sejak 9/11 dan konflik yang berkepanjangan di Afghanistan dan Irak, inisiatif yang bertujuan untuk membina pemahaman yang lebih mendalam antara agama-agama dan budaya yang berbeda telah berkembang, terutama ketika berkaitan dengan hubungan Barat-Muslim.
Tapi apakah inisiatif semacam itu memiliki dampak yang nyata terhadap opini publik? Bisakah inisiatif-inisiatif tersebut mengurangi ancaman ketegangan yang dihasilkan oleh ideologi ekstrimis?
Ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting bagi semua yang percaya terhadap pembangunan kondisi untuk ko-eksistensi dan perdamaian jangka panjang. Ini juga pertanyaan penting bagi Aliansi Peradaban PBB, sebuah inisiatif yang diluncurkan tiga tahun lalu oleh Spanyol dan Turki, dan kini didukung oleh lebih dari 90 negara dan organisasi, untuk membantu menghancurkan ancaman polarisasi dan ekstrimisme.
Konflik politik hanya bisa diselesaikan melalui dialog politik. Tapi resolusi jangka panjang untuk ketegangan antara masyarakat Muslim dan Barat, misalnya, tidak dapat dicapai selalma sebagian sumber permusuhan yang ada, entah peperangan di Afghanistan dan Irak atau di tempat lain, tidak diselesaikan dengan baik.
Pembicaraan dan perjanjian politik jarang terlaksana jika hal itu tidak didukung dengan kuat oleh masyarakat yang terlibat. Banyak perjanjian perdamaian di masa lalu telah tenggelam dikarenakan kecurigaan yang mendalam dan sikap permusuhan masih ada, memisahkan orang-orang sepanjang batasan budaya dan agama, salah satu contoh terbaik adalah konflik Israel-Palestina.
Menciptakan kondisi yang diperlukan untuk perdamaian abadi memerlukan upaya berbeda, yang bertujuan menciptakan pergeseran pikiran di antara masyarakat-masyarakat yang terpecah-belah. Ini bisa dicapai dengan menanamkan pada benak orang-orang, terutama kaum muda, nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap “antara” (the other).
Aktivitas orang-ke-orang, juga dikenal sebagai “diplomasi kota”, program pertukaran pemuda dan pendidikan kewarganegaraan telah memberi kontribusi terhadap tujuan ini.
Upaya-upaya ini membantu membangun jalan menuju dialog politik yang berhasil. Pasca-konflik, mereka mendukung proses rekonsiliasi yang panjang dan sulit. Dan ketika ko-eksistensi damai dari berbagai komunitas terancam oleh ketegangan yang membara, upaya ini bisa membantu mencegah berkembangnya konflik.
Kemajuan harus dicapai pada berbagai tingkatan. Kebijakan pemerintah harus terhubung lebih dekat dengan inisiatif masyarakat sipil yang bertujuan merekonsiliasi masyarakat-masyarakat yang terpecah-belah. Untuk itu, Aliansi Peradaban bekerjasama dengan jaringannya yang terdiri atas 91 negara dan sejumlah besar organisasi internasional untuk mempromosikan inisiatif antarbudaya di tingkat nasional dan regional.
Pemerintah sedang mengembangkan rencana nasional dan membangun kemitraan dengan masyarakat sipil untuk mendukung program pertukaran pelajar, pelatihan kepemimpinan dan proyek-proyek pendidikan antarbudaya.
Untuk mendukung toleransi dan pemahaman, kita juga memerlukan proyek-proyek praktis yang mempromosikan kolaborasi antar masyarakat untuk memenuhi kebutuhan setempat yang relevan.
Misalnya, pada bulan Januari, Pemerintah Qatar meluncurkan inisiatif ketenagakerjaan pemuda senilai 100 juta dolar AS yang disebut Silatech. Proyek ambisius ini, yang akan mengatasi pengangguran di antara pemuda Arab di Timur Tengah dan menawarkan mereka prospek masa depan, memiliki latar koalisi global dari perusahaan-perusahaan terkemuka, masyarakat sipil dan filantropis.
Kemitraan ini melampaui batasan negara, budaya dan agama untuk membantu peningkatan terciptanya pekerjaan di satu bagian dunia di mana 100 juta pekerjaan diperlukan selama 20 tahun mendatang.
Silatech mendukung pemerintah Arab untuk terlibat dalam perubahan kebijakan berkaitan dengan pengangguran pemuda. Pelatihan yang dipimpin oleh masyarakat sipil akan memberi para pemuda ini keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan ketenagakerjaan. Institusi multilateral dan bank-bank akan mengeluarkan pinjaman mikro untuk membantu memacu semangat kewiraswastaan di wilayah itu.
Kemitraan Muslim-Barat intra-Arab, antar-sektor yang mengagumkan itu baru-baru ini ditempa untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut.
Sama pentingnya dalam memuluskan jalan menuju perdamaian abadi adalah mengatasi masalah-masalah prasangka dan stereotip yang meningkatkan ketidakpercayaan antara orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda.
Dialog politik dapat menegakkan hubungan diplomatik, tapi perubahan sesungguhnya muncul ketika orang-orang mulai memandang “antara” sebagai mitra dalam kemanusiaan.
Industri film memainkan peran penting dalam membentuk persepsi. Dengan dukungan tiga perusahaan Hollywood yang progresif – termasuk perusahaan di belakang Syriana dan An Inconvenient Truth – 100 juta dolar AS dana media dihasilkan tahun ini untuk mendukung produksi film-film yang menentang stereotip minoritas. Menurut Ratu Jordan Noor, rekan pendiri pendanaan ini, inisiatif ini akan “mendukung produksi dan distribusi film-film yang menghibur sekaligus mencerahkan.”
Ini merupakan upaya jangka panjang. Mereka tidak akan berbuah dalam semalam.
Namun, nilainya tidak boleh diremehkan. Hal ini penting untuk proses membangun perdamaian abadi sebagai mediasi dan negosiasi politik yang sulit. Sungguh, hal ini membantu meletakkan dasar untuk dialog politik dan memberikan dukungan yang akan membuat ko-eksistensi dan perdamaian dapat hidup dan abadi.
###
* Jorge Sampaio adalah mantan Presiden Republik Portugis (1996-2006) dan Perwakilan Tinggi PBB untuk Aliansi Peradaban. Artikel ini aslinya diterbitkan di Ha’aretz dan Press-Enterprise dan ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews). Izin hak cipta diberikan hanya untuk publikasi di luar Kalifornia Selatan.
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 7 November 2008, www.commongroundnews.org
Hak cipta diberikan hanya untuk publikasi di luar Kalifornia Selatan.
http://www.commongroundnews.org/article.php?id=24334&lan=ba&sid=1&sp=0&isNew=1
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar